Asbabun Nuzul Surat Al-Kahfi dan Tafsiran dari ayat 1-5 surah al-kahfi


Kajian Malam Jum’at
Pemateri : M. Arif Al-Kausari, Q.H. M.H.

Remus MAN IC LOTIM jum’at, 25 Januari, 2019


                Kajian pekanan kali ini diisi oleh ust. Arif yang membawakan tema yaitu tafsir surat al-Kahfi ayat 1-5. Yang diambil dari kitab tafsir ibnu katsir. Diawal kajian, dijelaskan tentang perbedaan susunan antara tafsir ibnu katsir dengan tafsir jalalain (tafsir yang dipakai pada pelajaran malam di asrama MAN IC Lombok Timur). Tafsir ibnu katsir disusun dengan kumpulan beberapa ayat, lalu Ibnu katsir menjelaskan makna ayat tersebut, sedangkan dalam tafsir jalalain penjelasannya makna kata perkata atau kalimat. Karenanya, kajian malam tersebut  mengambil lima ayat pertama dari surat al-Kahfi.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا (1) قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا (2) مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا (3) وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا (4) مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلا لآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلا كَذِبًا (5) }
1. Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al kitab (Al-Quran) dan Dia tidak Mengadakan kebengkokan di dalamnya;
2. Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik,
3. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.
4. Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: "Allah mengambil seorang anak."
5. Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.

Keutamaan surat Al-Kahfi
            Surat ini dinamakan dengan surat al-kahfi karena di dalamnya terkandung kisah sekelempok pemuda yang lari dari kejaran penguasa yang zalim, karena teguh dalam mempertahankan imannya. Mereka bersembunyi di dalam gua selama 309 tahun, karenanya mereka disebut “ashabul kahfi” yaitu penghuni gua.
Adapun keutamaan yang dimiliki oleh surat ini adalah teramat tinggi. Sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa hadits nabi Muhammad saw, diantaranya :
pertama orang yang menghafal sepuluh ayat pertama dalam surat al-Kahfi, akan dipelihara dari fitnah dajjal. Dalam satu riwayat, disebutkan juga sepuluh terakhir. Saking pentingnya mendapat perlindungan dari fitnah dajjal ini, sehingga para nabi sejak nabi Adam as hingga nabi Muhammad saw mengingatkan umatnya untuk berlindung dari fitnah dajjal. Lantas mengapa fitnah dajjal ini begitu menakutkan??? Jawabnya adalah karena sihir yang dimiliki oleh dajjal, dapat membuat iman seseorang terkecoh bahkan jatuh kepada kekafiran. Ia dapat menghidupkan orang mati, menurnkan hujan dari langit, hingga menghimpun segala perbendaharaan dari reruntuhan gedung-gedung dengan hanya menyeru “wahai segala kekayaan dan perbendaharaan yang ada di balik gedung ini, mendekatlah. Maka semua perbendaharaan itu mendekat dengan seketika. Inilah yang menyebabkan setiap muslim harus meminta agar dipelihara dari fitnah dajjal.Dan menghafal surat al-Kahfi mampu menjadi jaminannya.
Kedua dengan menmbaca surat al-Kahfi dapat menghadirkan rahmat berupa “sakinah” (ketenangan) yang didapatkan oleh pembacanya dan juga lingkungan rumah dimana ia dibacakan. Dalam suatu riwayat dikisahkan pernah ada seorang laki-laki di zaman rasululloh saw membaca surat al-Kahfi di dalam rumah, sedangkan di halamannya terdapat hewan kendaraannya. Tiba-tiba, terdengar kendaraannya lari (terlepas), akhirnya ia menengok ke halamn rumahnya, ternyata ada kabut atau awan yang menutupi dirinya. Kemudian ia menceritakan pengalamannya kepada Nabi saw, maka Nabi saw bersabda : Bacalah terus, hai fulan, sesungguhnya awan itu adalah sakinah (ketenangan) yang turun saat kamu membaca al-Qur’an atau turun kepada al-Qur’an.   

Asbab Nuzul

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum Quraisy telah mengutus an-Nadr bin al-Hairts dan 'Uqbah bin Abi Mu'ith untuk bertanya tentang kenabian Muhammad dengan cara menceritakan sifat-sifat Muhammad, dan segala sesuatu yang diucapkan olehnya kepada pendeta-pendeta Yahudi di Madinah. 
Orang-orang Quraisy menganggap bahwa pendeta-pendeta itu mempunyai keahlian dalam memahami kitab yang telah diturunkan lebih dahulu dan mempunyai pengetahuan tentang ilmu tanda-tanda kenabian yang orang Quraisy tidak mengetahuinya. 

Maka berangkatlah kedua utusan tadi ke Madinah dan bertanya kepada Pendeta-pendeta Yahudi itu sesuai dengan apa yang diharapkan kaum Quraisy. Berkatalah pendeta itu kepada utusan Quraisy; "Tanyakanlah olehmu kepada Muhammad tentang tiga hal. Jika ia dapat menjawabnya, maka dia adalah nabi yang diutus, akan tetapi jika ia tidak dapat menjawabnya ia hanyalah orang yang mengaku-ngaku jadi Nabi. 

1."Tanyakanlah kepadanya tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang bepergian dan apa yang terjadi pada mereka, Karena cerita tentang pemuda ini sangat menarik.

2.Tanyakanlah kepadanya tentang seorang pengembara yang sampai ke Masyriq dan Maghrib dan apa pula yang terjadi padanya,

3.dan tanyakan pula kepadanya tentang ruh itu".

            Maka pulanglah utusan tadi kepada Quraisy dan berkata : " Kami datang membawa sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menentukan sikap antara tuan-tuan dan Muhammad".Merekapun berangkat menghadap Rasulullah saw. dan menanyakan ketiga persoalan di atas. Rasulullah saw. bersabda : "Aku akan menjawabnya tentang hal-hal yang kamu tanyakan itu" (tanpa menyebut insya Allah). Lalu pulanglah mereka semuanya. 
Rasusulullah saw. menunggu-nunggu wahyu sampai lima belas malam lamanya, bahkan Jibril pun tidak kunjung datang kepadanya, sehingga orang-orang Mekah goyah dan Rasulullah saw. merasa sedih karenanya, dan tidak tahu apa yang harus di katakan kepada kaum Quraisy. Pada suatu ketika datanglah Jibril membawa surat Al-Kahfi yang di dalamnya menegur Nabi Muhammad saw. atas kesedihannya karena perbuatan mereka :

a.       Di  dalam (QS 18:6)  menerangkan apa-apa yang mereka tanyakan tentang pemuda-pemuda yang bepergian.
b.      Di dalam (QS. 18 antara ayat 9 s/d ayat 26) menerangkan tentang seorang pengembara (QS 18 : 83 s/d 101)
c.       dan firman Allah tentang ruh di dalam (QS 17 : 85). 

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa 'Uthbah dan Syaibah bin Rabi'ah, Abu Jahl bin Hisyam, An-Nadr bin al-Harits , Umayyah bin khalaf, al-Ashi dan Wa'il al-Aswad bin al-Mutthalib dan Abul Buhturi dari tokoh-tokoh Quraisy telah berkomplot melawan Rasulullah saw. Oleh Rasulullah perlawanan kaumnya terhadap dirinya dan keingkaran mereka terhadap nasihat-nasihatnya yang baik dirasakan sangat berat dan sangat menyedihkan hatinya. Maka turunlah
(QS, 18 : 6) sebagai teguran atas kemurungannya.

Tafsir
            Surat ini diawali dengan pujian Allah swt terhadap dirinya, dan hanya Dia-lah yang pantas untuk memberikan pujian kepada diriNya sendiri. Selanjutnya menurut ayat ini al-Qur’an diturunkan dengan tujuan sebagai pedoman yang lurus untuk mengingatkan tentang azab yang pedih dari Allah swt (untuk orang kafir dan pendosa) dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bahwa mereka akan mendapat belasan yang baik. Dijelaskan selanjutnya bahwa balasan yang baik itu adalah surga, sehingga mereka kelak kekal di dalam surga tersebut. Dan tujuan diturunkannya al-Qur’an selanjutnya menurut ayat ini adalah memberikan peringatan (bantahan) kepada orang-orang yang mengatakan bahwa Allah memiliki anak. Dalam sejarah diterangkan bahwa ada tiga kelompok yang menganggap Allah memiliki anak, yaitu orang Pertama kafir Quraisy mengatakan bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah. Kedua Orang Nasrani menganggap Nabi Isa as adalah putra Allah. Dan ketiga orang Yahudi mengatakan bahwa uzair anak Allah. Ketiga anggapan yang sesat inilah yang dibantah oleh al-Qur’an bahwa Alla itu esa, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
            Diakhir kajian dikisahkan oleh pemateri tentang debat Zakir Naik yang membantah argumentasi orang Nasrani tentang ketuhanan Yesus (Isa as) dengan rujukan kepada bible dan al-Qur’an. Orang nasrani menganggap Isa adalah Tuhan atau anak Tuhan (trinitas) dengan alasan; Kelahiran Yesus tanpa ayah (tidak biasa), Yesus dapat menghidupkan orang mati, dan Yesus belum meninggal hingga saat ini (jasadnya naik kelangit) yang dalam anggapan orang nasrani, ia kembali ke surga. Ketiga argumen itupun dibantah dengan rujukan dari al-Qur’an dan bible. Pertama jika kelahiran yesus adalah ajaib karena dilahirkan tanpa adanya proses percampuran dengan laki-laki, maka seharusnya Nabi Adam as lebih ajaib karena “kelahirannya” tanpa ada ayah dan Ibu. Lalu mengapa ia tidak disebut anak Tuhan. Kedua di dalam bible maupun al-Qur’an, Nabi yang dapat menghidupkan orang mati bukan hanya Nabi Isa, namun juga ada beberapa nabi lainya. Diantaranya Nabi Ilyas, Ilyasa’ dan hezrikal.
Di dalam surat al-baqarah ayat 244 dikisahkan tentang rombongan dari kalangan Bani Isra’il yang berjumlah ribuan orang keluar dari kampung halamannya karena takut mati (dari penyakit ta’un), lalu Allah mematika mereka semua. Hingga suatu ketika seorang nabi dari kalangan Bani Isra’il melintasi tempat dimana mereka dibinasakan, sehingga ia melihat tulang belulang di mana-mana, lalu ia berdo’a agar mereka dihidupkan, dan tak lama kemudian hiduplah mereka. Nabi itu di dalam bible dinamakan hezrikal dan dalam bahasa arab disebut hazqal sebagaimana dijelaskan oleh Imam thabari dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Bantahan argumentasi Ketiga Ternyata nabi yang belum meninggal hingga saat ini, bukanlah nabi Isa sendiri. Namun juga ada nabi Idris, yang belum diwafatkan dan saat ini ia masih di dalam surga. Jadi, keistimewaan yang dimiliki oleh Yesus tersebut, bukanlah sebgai pertanda bahwa ia adalah Tuhan atau anak Tuhan, namun itulah yang dikenal dalam Islam sebagai mu’jizat yang diberikan oleh Allah swt kepada para nabi, untuk membantu dakwah mereka.
Wallohu a’lam bis-shawab

-Redaksi : M. Ainul Mujtahidin dan Athoillah Azizul Hamidi-
Sakra,25 Januari 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Punahnya Manusia dalam Islam (Hari Akhir).

SEKOLAH PERJUMPAAN

PESAN SAYYIDINA ALI KEPADA ANAKNYA